0

Vincencius Alvin Leonardo - Siswa SMP Pengembang Antivirus Blue Atom

Posted by Hasna Salsabila Mumtaz on 19.13 in ,
Warga negara Indonesia, tepatnya di daerah Surabaya, Indonesia mempunyai prestasi baru. Nama lengkapnya Vincencius Alvin Leonardo, atau yang kita sebut saja Alvin. Usianya masih menginjak lima belas tahun, tapi siswa SMP Katolik Stella Maris ini luar biasa. Dia meraih IBA (Indonesia Berprestasi Award) 2010 dengan karya software antivirnya.

Alvin mengaku, antivirus itu sebenarnya lahir karena orang-orang di sekitarnya banyak yang mengeluh tentang virus di komputer mereka.

“Banyak saudara dan teman jengkel karena komputer atau flash disk diganggu virus. Saya lihat sistem kerja antivitus itu gampang, jadi saya buat sendiri,” ungkap anak tunggal itu.'

Awalnya, Alvin ingin menamakan karyanya Fire Antivirus. Tapi karena sudah ada yang menggunakan nama itu, akhirnya Alvin menamakan karyanya Blue Atom. “Biru itu melambangkan ketenangan dan atom merupakan bagian terkecil dari semua benda, itu melambangkan antivirus saya yang kapasitasnya cukup kecil,” katanya lagi. Lalu, ia mendaftarkan karyanya ke softpedia secara online.

“Saya sempat kesulitan mendaftar, karena harus mencari website yang bisa menjadi pengantar untuk masuk ke softpedia, karena saya tidak punya server sendiri. Tapi, akhirnya bisa menggunakan sourceforge ,” katanya bercerita.

Selang beberapa hari setelah mendaftar, Alvin mendapat jawaban melalui email yang menyatakan antivirus buatannya sudah lolos uji coba dan dijamin sehingga bisa diunduh secara langsung melalui softpedia dan brothersoft .

Dia mulai rajin mengotak-atik program komputer 3 tahun lalu. Saat itu, dia baru saja masuk SMP dan baru pertama kali pegang komputer.

Awalnya, dia hanya suka main game. Tapi, rasa ingin tahunya berkembang ketika melihat program visual basic dalam hard disk komputer.

“Waktu itu saya penasaran, program itu untuk apa? Cara kerjanya bagaimana? Lalu, saya otak-atik sampai akhirnya tahu,” ujarnya.

Kemampuan Alvin mengotak-atik program komputer dipelajarinya sendiri. Ia tidak pernah mengikuti kursus komputer atau mendapat bimbingan khusus di bidang pemrograman.
Hanya dalam waktu 2 tahun, Alvin sudah menguasai bahasa pemrogaman visual basic, c#, dan asmbler (ASMX 86) .

Kemampuan menguasai tiga jenis bahasa pemrogaman itulah yang mengantar Alvin akhirnya mampu membuat antivirus.

Keunggulan Blue Atom:
1. Berkapasitas kecil
2. Bisa menyeleksi lebih banyak virus.
3. Bisa bekerja dalam waktu singkat
4. Bisa digunakan untuk komputer dengan spesifikasi sederhana sekali pun.
5. Dilengkapi dengan karantina, clean , fitur antivirus untuk game , dan fitur protective flashdisk.

Ingin mendownload Blue Atom? Klik disini untuk mendowload.



(Dikutip dari: Indonesiacommunity)


0

Kathryn Stockett - 60 Kali Ditolak, Ternyata Novelnya Jadi Best-Seller

Posted by Hasna Salsabila Mumtaz on 18.00 in



Jika Anda penulis dan merasa hasil karya Anda bagus tapi tak satu pun penerbit mau menerbitkannya, tak perlu cemas. Mungkin buku Anda bakal jadi best-seller di kemudian hari. Banyak cerita, penulis novel yang berkali-kali ditolak penerbit, begitu ada yang mau menerbitkan, novel itu jadi best-seller. Yang paling fenomenal adalah serial novel Harry Potter, karya JK Rowling. Sebelum diterbitkan, Rowling mengalami penolakan dari 14 penerbit. Kita tahu sekarang bagaimana nasib novel Harry Potter yang laris luar biasa.


Selain JK Rowling masing banyak yang mengalami hal yang sama. Novelis John Grisham mengalami penolakan 45 kali sebelum novel pertamanya, A Time to Kill diterbitkan.

Baru-baru ini kisah penolakan seperti itu yang dikemukakan penulis Kathryn Stockett yang novelnya, The Help, terjual lebih dari 5 juta kopi hingga tahun ini. The Help diterbitkan tahun 2009.

Stockett memulai menulis novel itu pada tahun 2001. Novel The Help selesai tahun 2006. Ia kemudian menawarkan naskahnya ke sejumlah penerbit melalui agen. Ternyata tawaran pertama ditolak. Ia mencoba merevisi dan beberapa bulan kemudian menawarkannya lagi pada beberapa agen lain. Hasilnya, masih ditolak. "Setidaknya ada 15 yang menolak," katanya.

Ia coba bertanya pada teman-temannya kira-kira apa yang membuat novel yang bercerita tentang pembantu kulit hitam di keluarga kulit putih tahun 1960-an ini tak menarik. Kebanyakan menghibur dan memintanya menulis novel lain. Padahal, menurut Stockett, ia tak akan membuat novel berikut kalau The Help belum diterbitkan.

Setelah itu ia mencoba menawarkannya lagi pada sejumlah agen. Namun masih saja ditolak. Itu berarti ia sudah mendapat 40 kali penolakan. Penasaran dengan penolakan-penolakan itu, ia kemudian mengikuti sejumlah simposium yang diikuti beberapa penulis sukses dan mencari tahu apa rahasia sukses mereka. "Tetap berjuang, jangan menyerah. Saya saja ditolak 14 kali sebelum novel saya diterbitkan," kata penulis itu.

Stockett malah mencibir pada dirinya sendiri. Sebanyak 14 kali penolakan itulah yang wajar, padahal ia mendapat 40 kali penolakan? Namun ia tetap bertahan, ia harus terus bejuang. Memperbaikinya kalau perlu dan mencari agen atau penerbit baru yang mungkin bersedia menerbitkannya. Atas kengototan itu teman-temannya sudah memberinya nasihat agar tak perlu bergantung pada novel itu. Namun Stockett tetap yakin, The Help novel yang bagus dan layak diterbitkan.

Ia kemudian memperbaikinya di sana-sini. Begitu sibuknya dengan draft buku itu, sampai-sampai menjelang kelahiran anak pertamanya ia masih memegang draft. Ketika didorong menuju tempat persalinan, seorang perawat memintanya untuk tidak terus menerus membaca. Dan dengan menyesal akhirnya draft itu ia serahkan ke sang suami.

Lima hari setelah kelahiran anaknya, Stockett menginap di hotel dan langsung mengetik untuk memperbaiki The Help. Setelah itu ia menawarkan novel itu ke sejumlah agen. "Akhirnya saya mendapat penolakan yang ke-60," katanya.
 

Namun tawarannya yang ke-61 mendapat respon baik. Agen yang bernama Susan Ramer, bersedia menawarkan The Help ke penerbit Amy Einhorn Books. Tahun 2009 akhirnya novel itu terbit dan menjadi novel best-seller di Amerika.

"Novel itu terbit setelah melalui proses lima tahun menulis, tiga setengah tahun mengalami 60 penolakan," katanya. "Karena itu, jangan malu menerima penolakan apakah itu naskah buku, lagu, lukisan, karya tari, dan sebagainya. Jangan biarkan hasil karya itu terkunci di peti mati karena hal itu tak akan menjadikan apa-apa. Lebih baik berikan pada obsesi Anda," katanya memberi nasihat. Nasihat yang luar biasa!




(Narasumber: Andrie Wongso)

Copyright © 2009 Hasna Salsabila Mumtaz All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.